Melestarikan Kain Songket Palembang

Melestarikan kerajinan tenun songket, sebagai salah satu peninggalan kain raja-raja Sriwijaya, tidaklah dapat dilakukan setiap orang. Padahal dengan menekuni produksi dapat bertujuan melestarikan peninggalan budaya bangsa sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi.

Kata songket berasal dari istilah sungkit dalam bahasa Melayu yang berarti “mengait” atau mencungkil. Metode pembuatan songket dilakukan dengan mengaitkan, mengambil sejumput kain tenun kemudian menyelipkan benang emas. Sementara pihak Iain menyatakan songket berasal dari kata songka, songkok khas Palembang pertama kali dibuat dari bahan benang emas. Menyongket berarti menenun dengan benang emas.

Songket merupakan kain tenun mewah dikenakan pada saat peristiwa istimewa: kenduri, pesta perayaan dan penyambutan kedatangan raja. Dipakai dengan cara melilitkan pada tubuh seperti sarung atau disampirkan di bahu, dan dapat juga sebagai dastar/tanjak (topi hiasan dipakai oleh sultan pangeran serta bangsawan Kesultanan Melayu atau sebagai ikat kepala. Motif beragam umumnya: Siak, Kalamai, Buah Palo, Berantai Putiah, Tumpuak Manggih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, Cuki Baserak, Sirangkak, Silala Rabah kemudian songket dari Minangkabau Pidai Sikek dan Siamasam. Motif songket tersebut telah dipatenkan sehingga tidak diklaim budaya negara lain.

Bahan dasar songket adalah benang kapas atau benang sutra, benang emas sartibi dari Jepang, emas Bangkok, atau benang emas diperoleh dari kain katun dilarutkan pada larutan emas atau benang emas cabutan berasal dari songket antik yang sebagian telah rusak namun sebagian kain emas dapat diurai dan digunakan kembali. Usaha kerajian berbuah ekonomi. Usaha produksi kain songket dimulai Kopda Deni Saputra, anggota Ajendam Il/Swj sejak tahun 2005, setelah menikahi wanita Palembang Rita Zahra. Awalnya hanya membantu bisnis home industri orang tuanya / berjualan bahan baku benang namun pada tahun 2009 mengembangkan wirausaha produksi songket, kini berkembang mempekerjakan 8 orang karyawan. Modal utama pembuatan adalah ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Satu lembar kain songket dibuat paling cepat 25 hari sampai dengan satu bulan.

Untuk menyelesaikan satu lembar songket diperlukan keterampilan 2 orang pekerja, jadi usaha Kopda Deni setiap bulan rata-rata dapat’ berproduksi sebanyak 4 lembar songket. Ketika ditanya. koresponden. Vijaya Kusuma mengenai berapa nilai. keuntungan bersih setelah dipotong biaya produksi, Kopda Deni menjawab diplomatis “Kami bangga telah meyaitu tenun Songket”.

Namun dari sorot matanya yang berbinar menandakan bahwa usaha yang ditekuninya cukup menghasilkan, Modal utamå pembuatan adalah ketekunanr ketelitian dan kesabarancoSejauh Lini hanya melayanl pesanan saja. Satu lembar kain songket termurah Rp. 1,5 juta bahkan yang eksklusif menyentuh harga Rp. 3,5 juta. Usaha songket selama ini tidak surut dalam pemasaran karena telah memiliki pangsa pasar tersendiri bukan terbatas kalangan masyarakat Palemang bahkan diminati wisatawan Sebagian model manca negara. telah dipasarkan di Supermarket Ramayana Palembang. Anda ingin mencoba ?tradisional leluhur kerajaan Sriwijaya