Pentingnya Soft Skills Dalam Menjalin Kerjasama yang Baik di Lingkungan Kerja

Seringkali kita mendengar bahwa seorang perwira yang dianggap berhasil dalam berbagai pelaksanaan tugasnya, ternyata pada perjalanan karier yang lebih tinggi kemudian dianggap gagal karena kemampuan dalam bekerja sama di lingkungannya. Muncul berbagai keluhan karena perwira tersebut dianggap terlalu otoriter, hanya berorientasi pada tugas, dan tidak mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan anak buah dan rekan sekerjanya. Hal ini tentunya tidak menguntungkan bagi organisasi militer yang sangat mementingkan jiwa korsa dan terutama sangat dirasakan di era yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Karena itu kemampuan memotivasi para anggota agar bersedia untuk menerima visi pimpinan sebagai visi bersama (Shared Vision) menjadi sangat penting agar anggota tidak merasa ragu-ragu dalam bertindak. Padahal di era digital saat ini, informasi dapat beredar dalam hitungan detik, para perwira TNI AD justru semakin dituntut untuk menunjukkan kepemimpinan yang efektif, agar roda organisasi secara keseluruhan dapat berjalan sesuai dengan tuntutan dinamika lingkungan yang terus berubah dengan amat cepat.

Essay ini ditulis dengan pemahaman bahwa walaupun kepribadian manusia relatif menetap dan sulit untuk dirubah, namun pada dasarnya manusia mampu memperbaiki dirinya. Hal ini dapat terjadi jika seorang individu dapat menyadari kelemahan dirinya serta kemudian mampu mengurangi kelemahannya dan sebaliknya memperkuat kelebihan yang dimilikinya. Dengan demikian, yang bersangkuatan akan dapat menutup hal-hal negatif yang berkaitan dengan sifat-sifat bawaan yang dimilikinya, dan secara bertahap dapat meningkatkan efektifitas perilakunya bagi kepentingan organisasi.

Kepemimpinan dan Kompetensi Perilaku

Berbagai literature tentang kepemimpinan menunjukkan bahwa pengertian kepemimpinan adalah suatu kemampuan yang dapat membuat sekelompok orang dengan sukarela mengadopsi tujuan kelompoknya menjadi tujuan pribadi mereka, sehingga kinerja organisasi dapat menjadi optimal. Oleh karena itu kepemimpinan yang efektif lebih ditentukan oleh kemampuan pemimpinnya dalam menggugah anak buahnya secara bersama-sama untuk mencapai visi organisasi. Masalahnya, Harris dan Schaubroeck (1988) menemukan bahwa bagi para pemimpin atasan, penilaian terhadap keberhasilan bawahan lebih didasari oleh kemampuan dalam penyelesaian tugas atau kompetensi teknis yang mumpuni. Sebaliknya, bagi para bawahan keberhasilan atasan lebih didasari oleh kemampuan interpersonal dalam bekerja sama dengan orang lain dan integritas dari pimpinan tersebut. Dengan demikian, dari perbedaan ini tentunya dapat muncul suatu inkonsistensi penilaian tentang keberhasilan dari seorang pemimpin, tergantung dari mana penilaian itu berasal.

Mengingat hasil penilaian atasan akan lebih berpengaruh dalam promosi jabatan seseorang, seringkali terjadi orang-orang yang sebenarnya tidak mampu memimpin, tetapi pada awal kariernya dianggap berhasil dalam penyelesaian tugas karena kemampuan teknis yang tinggi, kemudian mengalami peningkatan karier. Hal ini untuk jangka panjang akan berdampak negatif bagi organisasi, karena untuk menutupi ketidakmampuan mereka dalam memimpin, orang-orang ini kemudian cenderung mengambil alih pekerjaan teknis anak buahnya dalam rangka untuk tetap mendapatkan penilaian yang baik dari pimpinan atasan.

Bagi mereka membina bawahan agar memiliki kemampuan dan kemauan untuk melaksanakan tugastugas yang bersifat teknis sesuai dengan batas waktu yang diberikan dirasakan membuang waktu dan tenaga. Lambat laun, pemimpin yang seperti ini akan menjadi “terbiasa” dengan gaya yang seperti ini, dan kemudian mengadopsi gaya kepemimpinan yang otoriter, yang hanya berorientasi pada penyelesaian tugas, atau dengaan kata lain mengganggap kepemimpinan yang baik adalah sama dengan penguasaan kompetensi teknis semata. Bagi mereka perilaku seperti kemampuan berinteraksi dengan orang lain, kemampuan memotivasi orang lain dan kemampuan bekerja sama dengan orang lain menjadi tidak penting.

Masalahnya, penelitian Lombardo et al (1988) menunjukkan bahwa keahlian teknis ternyata menjadi semakin tidak berarti dijabatan managerial menengah ke atas. Sebaliknya kemampuan berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain menjadi semakin penting di jabatan yang lebih tinggi. Seperti terlihat digambar di bawah ini yang berasal dari pemikiran Robert Katz (1974), seorang psikolog sosial dari Universitas Harvard, ada tiga kompetensi utama yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Di tingkat kepemimpinan pemula, dibutuhkan banyak kompetensi teknis dan sedikit kompetensi yang berhubungan dengan wawasan konseptual. Selanjutnya di tingkat kepemimpinan madya, dibutuhkan lebih banyak kompetensi yang terkait dengan wawasan konseptual, namun kompetensi teknis yang dibutuhkan porsinya semakin menurun.

Namun demikian, di tingkat kepemimpinan strategis, kompetensi teknis boleh dikatakan tidak lagi terlalu dibutuhkan, dan lebih banyak dituntut kompetensi yang terkait dengan wawasan konseptual. Yang menarik dari gambar ini adalah fakta bahwa kompetensi yang berhubungan dengan kemampuan berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain, atau kompetensi interpersonal (soŌ skills) ternyata dibutuhkan di setiap jenjang kepemimpinan. Ini berarti apapun tingkat kepemimpinannya, seorang individu tidak akan berhasil jika tidak memiliki kemampuan ini.