Sejarah

Bermula dari gagasan pemikiran Dirajenad, Brigjen TNI Erry Herman M.P.A., pada waktu mengadakan kunjungan ke Bangka Belitung Sumatera Selatan, di dampingi oleh Kolonel Caj Eko Waluyo, disampaikan gagasan perlunya menggali sejarah berdirinya Ajudan Jenderal, dengan pertimbangan pemikiran bahwa suatu organisasi akan berhasil apabila mau dan mampu menggali sejarah untuk dipelajari kemudian melangkah menyongsong masa depan. Bertitik tolak dari latar belakang ini kemudian timbul gagasan dan pemikiran lintasan sejarah yang dikemas dalam bentuk sosiodrama dengan drama musikal yang lengkap tersaji untuk ditampilkan dalam acara puncak Hari Ulang Tahun ke-66 Ajudan Jenderal Angkatan Darat di Maditajenad.

Sebagai langkah awal mewujudkan pemikiran ini diadakan rapat untuk menggali ide cerita yang akan diangkat dalam seni sosiodrama. Dikumpulkan seluruh tim leader yaitu tim kreator alur cerita, tim kostum dan properti, tim arransemen musik, tim pencari bakat dan mengoorganisir kemungkinan pemain, dan tim tata gerak dan tari. Sebagai pendahuluan tim leader ini membuat paparan dan memberikan ide kreatif masing-masing. Semua ide ditampung dan di bahas, tiap tim memiliki ide gagasan dan sebagian memiliki versi rencana tampilan berbeda. Tidak mudah memang menyatukan keinginan dari masing-masing tim tetapi berkat komunikasi, koordinasi dan kesamaan visi untuk menampilkan yang terbaik, maka masing-masing tim sepakat menerima koreksi dari tim lain. 

Berbeda pendapat adalah hal yang biasa, tetapi kesamaan visi dan tujuan untuk memberikan yang terbaik menjadi alasan untuk tetap bersama. Modal yang dimiliki tiap tim dikelola oleh Dirajenad dengan penulis segmen sosiodrama Kolonel Caj Eko Waluyo dibantu beberapa personel lain, Tim properti dan kostum Letkol Caj Herdi, tim tata gerak dan tari Kapten Caj Imron, tim musik arransemen Letkol Caj Chandra dan Kapten Caj Anton, dan dilengkapi tim pencari bakat pemain oleh Letkol Caj Dedy Kusumah serta didukung personel pembantu untuk mengoordinir pemain yaitu Mayor Caj Selly.

Setiap hari dilaksanakan latihan yang melibatkan 494 personel, yang terdiri dari anggota Militer dan PNS Ditajenad, Pusdikajen Kodiklat TNI AD, Ajen Kodiklat TNI AD, dan Ajendam III/Siliwangi, serta Siswa Siswi SMP dan SMA Yayasan Vijaya Kusuma. Mekanisme Latihan Latihan di awali dengan briefing pemain karena sebagian besar pemain tidak memiliki bakat di bidang seni drama maupun seni tari. Briefing dimulai dengan memberikan gambaran secara garis besar seperti apakah jalannya cerita sosiodrama dan penampilan apa yang diharapkan. Kolonel Caj Eko Waluyo mengajak para pemain dan tim pengendali menyaksikan film tentang apa dan bagaimana sosiodrama yang menampilkan cerita lain

Setelah memberikan gambaran dan penjelasan kepada para pemain, maka para tim leader ini mulai merancang dan mengadakan pembagian kerja tim, mulai dari pemilihan karakter pemeran utama, karena harus sesuai dengan gambaran dan sosok yang dikehendaki. Merancang segmen alur cerita yang dibagi menjadi 7(tujuh) segmen yang dibuat berdasarkan tema. Tim kreasi seni dan tari membuat tata gerak yang luwes tetapi energik, tata musik dan arransemen merancang musik disesuaikan dengan alur cerita, dan narasi yang diiringi kolaborasi antara seni musik modern dan seni musik tradisional.

Tim Kostum dan properti mulai merancang kostum dan properti apa yang akan digunakan oleh pemain maupun penari, karena sosiodrama menceritakan masa lalu sehingga perlu dilengkapi kostum disesuaikan dengan jamannya, selain itu dilengkapi properti yang dapat mendukung gambaran alur cerita seperti perahu, ombak, ruang perkantoran dan bendera-bendera. Latihan dimulai dari latihan perorangan sebagai pemeran-pemeran utama, dilanjutkan latihan kelompok yang terdiri dari kelompok pembawa bendera sebagai opening atau pembuka, kelompok pemeran pendukung visual masa lalu, kelompok pendemo dan HKAG

(Hoofd Kwartir Ajudant Generaal), kelompok pemeran eks KNIL dan Angkatan laut, kelompok properti, kelompok demonstrasi Yong Moodo, kelompok penari dan pemain rampak gendang juga para pemain musik. Peranan tim leader sangat penting karena dapat mengatasi suatu gerak parsiil yang dilatih tim berbeda namun setelah dikombinasikan menjadi satu urutan dapat menampilkan suatu cerita utuh. Terdapat penyesuaian gerak dari yang telah dilatihkan, namun dengan modifikasi pada bagian awal atau akhir yang dilatihkan oleh tim leader jalan cerita menjadi sangat representative. Para tim leader mengedepankan falsafah pengasuhan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, Kehadiran Dirajenad menambah rasa semangat optimis para pemain berlatih. Masing-masing personel mempunyai mental dan semangat yang luar biasa untuk tetap terlaksananya tugas dan tanggung jawab juga semangat untuk berlatih dan berkreasi.

Perlu kesabaran ekstra untuk melaOh personel yang tidak biasa bermain drama personel yang tidak bisa menari menjadi bisadanmenampilkan performa luar biasa. Pengalaman yang dimiliki dan kemampuan para leader menjadi penentu dalam keberhasilan tampilan ini. Selain kemampuan mengembangkan kreatifitas, mereka juga harus bisa membangun kebersamaan tim, kekompakan tiap-tiap kelompok dan tetap membangun mental kejuangan para pemain untuk berlatih. Sehingga faktor kesehatan baik secara sehat jasmani dan rohani, fisik yang kuat untuk berlatih tiap hari dan tetap menyelesaikan dan melaksanakan tugas dapat terselesaikan dan mencapai hasil maksimal sehingga meraih prestasi. Penampilan sosiodrama ini menampilkan 7 segmen cerita: Segmen satu, sebagai opening atau pembuka sosiodrama yang menampilkan gunungan dan atraksi bendera.

Segmen dua, menjelaskan tentang situasi kehidupan masyarakat pasca Kemerdekaan. Segmen tiga, pembentukan cikal bakal Korps Ajudan Jenderal (CAJ) sesuai perintah Kapala Staf Angkatan Darat memerintahkan pembentukan Staf “A”, dengan mengambil alih Gedung HKAG (Hoofd Kwartir Ajudant Generaal). Segmen empat, Menceritakan tentang Staf “A” yang melaksanakan tugas kenegaraan rekrutmen dan pendataan ulang kepada personel AL eks KNIL, dan proses pemberian NRP baru bagi yang mau melanjutkan tetap di Staf “A”. Segmen lima, Menampilkan Dirajenad dari masa ke masa yaitu tampilan

kebijakan dan monumental para pimpinan (Dirajenad), hingga Dirajenad saat ini dengan moto sehat, kuat, dan hebat. Segmen enam, Menampilkan seni tari tarian Nusantara, rampak gendang ,dan atraksi YongMoodo dengan penampilan yang diiringi dengan alunan musik modern berkolaborasi dengan musik tradisional. Segmen tujuh,Sebagai Clossing, seluruh pemain memasuki lapangan untuk menyanyikan lagu Mars Vijaya Kusuma. Tampilan sosiodrama bukan hanya tampilan seni guna menghibur, namun merupakan refleksi dari pembinaan satuan yang dilaksanakan secara terus menerus melalui latihan yang keras, terukur, dan konsisten sehingga mampu menampilkan karya agung Masterpiece. Sebuah sajian sosiodrama merupakan satu bagian pembinaan satuan yang baik dan terukur karena dapat menumbuhkan potensi kemampuan perorangan, kekompakan, dan kerjasama satuan yang baik antara unsur pimpinan dan anak buah.